PELAJARAN BAHASA ARAB SYIBHU JUMLAH

Posted by e-absen rapat Selasa, 13 Mei 2014 0 komentar

Syibhul Jumlah = Menyerupai Kalimat

Syibhul Jumlah:  adalah rangkaian kata(tersusun dari dua kata atau lebih) yang mirip dengan kalimat(jumlah)  namun ia bukan kalimat(jumlah) karena tidak memenuhi kaedah yang sempurna.
 
Syibhul jumlah terbagi atas dua kelompok(susunan) :

1. Susunan Harful Jer  dan  Isim =    حَرْفُ الجَرِِّاِ  + اِسْم 
2. Susunan Zhorof  dan  Isim =  ظَرْفٌ   +اِسْم    

Keterangan:
1. Susunan Harful Jer dan  Isim =   حَرْفُ الجَرِِّاِ  + اِسْم  


Contoh: مِنَ السُوْقِ
مِنَ السُوْقِ ~ minas suuqi  terdiri dari Harful Jer مِنَ ~min = dari  dan Isim السُوْقِ~assuuq = pasar. Disebut juga dengan susunan Jer dan Majrur ( جَرٌّ  وَ  مَجْرُوْرٌ .)
مِنَ السُوْقِ  ~ minas suuqi = dari pasar, merupakan Susunan Syibhul Jumlah.
مِنَ  ~ min = dari,  Harful Jer (Huruf Jer)
السُوْق ~ As-suuq = pasar yaitu Isim, terdapat ciri Isim diawal kata Alif  dan Lam.
 Isim setelah Huruf Jer   yaitu  السُوْق ~ As-suuq berakhiran kasrah inilah yang disebut Isim Majrur.

Keterangan 2. Susunan Zhorof  dan  Isim =    ظَرْفٌ   + اِسْم

Contoh : أمَامَ المَنْزِلِ
أمَامَ المَنْزِلِ ~ amaamal manzili terdiri dari Zhorof  أمَامَ ~amaama = di depan  dan Isim المَنْزِلِ ~al-manzili  = rumah.   Disebut juga dengan susunan Zhorof  dan Majrur (ظَرْفٌ وَ مَجْرُوْرٌ).
أمَامَ المَنْزِلِ  ~ amaamal-manzili = di depan rumah, merupakan susunan Syibhul Jumlah
أمَامَ ~ Amaama =  di depan, Zhorof
المَنْزِلِ ~ Al-manzili = rumah yaitu Isim terdapat ciri Isim diawal kata Alif dan Lam.
 Isim setelah zhorof  أمَامَ ~ amaama yaitu  المَنْزِلِ~ al-manzili berakhiran kasrah.  ini  disebut dengan Isim Majrur.

Catatan:

ظَرْفٌ~ Zhorof;  adalah kata yang digunakan untuk menunjukkan keterangan waktu atau tempat;

Contoh: 1
أمَامَ  ~ amaama = di depan
وَرَاءَ ~ waraa-a = di belakang

Zhorof   أمَامَ  dan  وَرَاءَ  disebut dengan  ظَرْفُ الْمَكَانِ~ Zhoroful-makani = Zhorof keterangan tempat.

Contoh: 2
بَعْدَ ~  ba'da = sesudah
قَبْلَ ~ qabla = sebelum
Zhorof   بَعْدَ dan  قَبْلَ  disebut dengan ظَرْفُ الزَّمَانِ ~ Zhorofuz-zamaani = Zhorof keterangan waktu.

Baca Selengkapnya ....

BUAT SUASANA UJIAN YANG MENYENANGKAN

Posted by e-absen rapat Minggu, 11 Mei 2014 0 komentar
silahkan klik link berikut BUAT SUASANA UJIAN YANG MENYENANGKAN

Baca Selengkapnya ....

Kerukunan

Posted by e-absen rapat Jumat, 09 Mei 2014 0 komentar

Kerukunan

Kerukunan sebagai istilah yang mudah untuk disebut setiap orang, tetapi menjadi rumit untuk diwujudkan. Al-Qur'an telah memberikan petunjuk dalam memelihara kerukunan, diantaranya dengan mengembangkan sikap terbuka sesama muslim, betapapun besarnya perbedaan personal dalam paham atau ataupun tingkah laku. setiap orang harus tetap menunjukkan sikap rukun (solid). Hal ini bukanlah perkara mudah, memerlukan tingkat ketulusan dalam pandangan islam.
1.  Pengertian kerukunan
Kerukunan dalam bahasa Arab disebut dengan kata tawaafuqun, tawaddun, ittifaqul kamilati. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kerukunan diartikan dengan kelapangan dada, dalam arti suka rukun kepada siapapun, membiarkan orang berpendapat atau berpendirianlain, tak mau mengganggu kebebasan berpikir dan berkeyakinan lain. Kerukunan itu adalah satu tata pikir atau sikap hidup (thalent attitude) yang menunjukkan kesabaran dan kelapangan dada menghadapi pikiran-pikiran, pendapat-pendapat, dan pendirian orang. Dalam istilah agama islam,kerukunan itu dinamakan tasamuh, yaitu membiarkan secara sadar terhadap pikiran atau pendapat orang lain. Orang yang demikian dinamakan toleran.
Kerukunan itu membentuk sikap lahiriah manusia dalam kaitannya dengan hubungan antar manusia dalam masyarakat. Ciri-ciri kerukunan diantaranya tergambar dalam kebesaran jiwa seseorang, keluasan paham dan pengertiannya, serta lapang dada dan sabar menghadapi pendapat-pendapat atau pendirian orang lain yang bertentangan dengan pendapat dan pikirannya sendiri. Di dalamnya, termasuk kerukunan karena perbedaan kepercayaan agama.
2.   Karakteristik Kerukunan
Sifat kerukunan menghendaki bahwa perbedaan agama, kepercayaan, keyakinan dan pendirian, serta paham dan penilaian tidak boleh membuat satu garis pemisah yang memengaruhi hubungan di segala bidang kehidupan. Semua harus senantiasa diciptakan hubungan yang harmoni serta menjauhkan sikap yang kaku dan konfrontatif. kerukunan membentuk watak manusia supaya bersikap menahan diri, lapang dada, dan luwes (flexibility) .Islam tidak mengenal unsur-unsur paksaan. Hal ini berlaku mengenai cara, tingkah laku, dan sikap hidup dalam segala keadaan,serta dipandang sebagai satu hal yang pokok/esensial. Islam bukan saja mengajarkan supaya tidak melakukan kekerasan dan paksaan, tetapi diwajibkannya pula supaya seorang muslim menghormati agama lain serta menghargai pemeluk-pemeluknya dalam pergaulan.
Kerukunan dalam ajaran islam memmiliki batas-batas yang harus diperhatikan. Sikap kerukunan ini tidak boleh memaksa atau merugikan kepada kaum muslimin sendiri.Islam memberikan perlindungan terhadap pemeluk lain yang ingin hidup secara damai dalam masyarakat atau pemerintahan yang dikuasai oleh kaum muslimin. Meraka akan diperlakukan dengan baik dan adil sebagaimana orang Yahudi dan Nasrani pada zaman pemerintahan Rasulullah di Madinah. Kaum muslimin diikat oleh suatu peraturan supaya hidup bertetangga dan bersahabat dengan orang yang memeluk agama lain. Hak-hak meraka tidak boleh dikurangi dan tidak boleh dilanggar.

Baca Selengkapnya ....

MENYONTEK ITU SEPERTI KORUPSI

Posted by e-absen rapat Rabu, 18 Desember 2013 0 komentar
Pada tanggal 9 Desember 2013,para siswa melaksanakan ujian semester ganjil, mulai dari tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA bersamaan diperingati hari anti korupsi di seluruh dunia. Penetapan dan peringatan sebagai hari anti korupsi ini kiranya bermaksud mulia. Yaitu untuk mengingatkan  siapapaun  di seluruh dunia akan besarnya bahaya yang diakibatkan oleh tindak kejahatan korupsi itu sendiri. Korupsi mengakibatkan  kemiskinan, kesengsaraan, kemunduran, kekacauan,  dan bahkan  runtuhnya sebuah tatanan birokrasi yang seharusnya dipelihara dan dikembangkan.  
 
Sekalipun  bahaya korupsi itu sudah diketahui sedemikian besar bagi kehidupan bersama, namun lejahatan itu tetap saja dilakukan oleh kalangan luas. Mereka yang berkesempatan dan memiliki niat jahat,  maka mereka melakukannya. Para pelakunya  tidak terbatas pada latar belakang pendidikan, jabatan, dan juga instansi tertentu, melainkan merata di semua bidang. Bahkan pihak-pihak yang semestinya bertugas memberantas korupsi pun  juga  ada saja yang terlibat melakukannya. Oknum polisi, jaksa, hakim, politisi, kepala sekolah, pimpinan daerah,  Perbankan, BUMN, dan bahkan  menteri pun,  tidak terbebas dari perilaku menyimpang ini.  Korupsi bisa dilakukan di mana saja dan  oleh siapa saja.
 
Perilaku menyimpang Sebagaimana digambarkan tersebut, sebenarnya telah  dilakukan sejak usia dini, yaitu oleh  anak-anak ketika  masih sedang belajar di sekolah.   Di tempat belajar atau pendidikan,  sejak kecil,  anak-anak sudah mengenal dan  berperilaku menyimpang, misalnya menyontek. Prilaku itu  sama atau mirip  dengan berbuat bohong atau korupsi. Bersekolah yang semestinya berlatih jujur, tetapi ternyata sebaliknya,  tanpa disengaja justru mendapatkan latihan berbuat tidak jujur atau curang.
 
Menghilangkan tradisi menyontek ternyata juga tidak mudah. Para guru tidak   pernah  memberikan  pelajaran tentang ketrampilan itu, Namun,  tanpa diajari,  ternyata anak-anak sejak diri sudah bisa melakukannya sendiri. Semakin bertambah umur,  kemampuan anak-anak menyontek juga semakin canggih. Itulah sebabnya, tatkala dilangsungkan ujian akhir atau ujian nasional, kementerian pendidikan dan kebudayaan hingga meminta tenaga pengawas dari perguruan tinggi. Aneh sekali, perguruan  tinggi tidak dimintai hasil penelitiannya,  melainkan sekedar tenaganya untuk mengawasi ujian.   
 
Kenyataan bahwa anak-anak tanpa diajari pun  bisa  menyontek, maka   semestinya pengalaman itu  bisa dijadikan pelajaran, bahwa anak memiliki potensi untuk belajar sendiri. Guru atau orang dewasa selalu berpandangan bahwa apa saja harus diajarkan. Pada kenyataannya tidaklah  demikian. Anak-anak dalam hal-hal tertentu bisa belajar secara mandiri. Sesuatu yang menjadi keinginan seseorang, tidak terkecuali oleh  anak-anak, akan diusahakan untuk  diraihnya, dengan cara apapun. 
 
Ketika anak-anak ingin lulus dan atau  mendapatkan nilai unggul, sepanjang bisa dilakukan, mereka akan nyontek. Mereka juga sudah tahu,  bahwa berbuat jujur adalah lebih baik, ksatria, dan terpuji. Akan tetapi  pandangan itu, oleh sementara anak-anak  diabaikan dan lebih memilih jalan menerabas, yaitu  menyontek itu. Perilaku menyimpang dianggap lebih menyenangkan dan merupakan prestasi tersendiri. Dengan begitu,  mereka merasa berhasil mengelabuhi gurunya. Pendidikan kejujuran yang diberikan oleh guru justru dikhianati oleh murid-muridnya sendiri.
 
Kebiasaan menyimpang di sekolah seperti itu, tatkala mereka dewasa akan menjadi kebiasaan atau  bahkan budaya.  Tatkala masih di sekolah,  mereka menyontek, maka  setelah   menjadi dewasa, dan mendapatkan pekerjaan sebagai  pegawai atau pejabat,  akan melakukan korupsi. Oleh karena itu,  bisa jadi,  kebiasaan menyimpang di sekolah adalah  menjadi bibit perilaku korup tatkala mereka sudah dewasa dan bekerja.  Korupsi dianggap sebagai sesuatu yang wajar oleh karena sudah menjadi kebiasaan sejak usia sekolah dengan cara menyontek itu.
 
Disbutkan bahwa bibit korupsi tumbuh sejak di sekolah,  juga tampak dari ketika  mereka memilih jenis sekolah. Pemilihan  jenis sekolah bukan semata-mata atas dasar bakat dan minat yang bersangkutan, tetapi sengaja  dicarikan lembaga pendidikan yang lulusannya bisa bekerja di tempat-tempat basah. Lapangan pekerjaan di bidang keuangan, perpajakan, kejaksaan, dan pekerjaan semacam itu lebih dipilih daripada sekolah yang  hanya  bisa bekerja sebagai guru, atau sejenisnya. Orang tidak bangga manakala anaknya hanya bekerja di tempat kering yang dianggap kurang menjanjikan. Tempat kering biasa dikonotasikan sulit melakukan penyimpangan. Oleh karena itu niat berkorupsi sebenarnya sudah ditanamkan sejak anak-anak berusia dini.
 
Atas dasar pandangan itu, memberantas korupsi harus dimulai sejak dini, yaitu sejak anak-anak belajar di sekolah.  Untuk menghindar dari tumbuhnya mental korup,  perlu dicarikan pendekatan evaluasi belajar,  atau  ujian  agar tidak melahirkan bibit-bibit korup itu. Ujian bersama yang memungkinkan para siswa bisa menyontek harus dihindari. Sementara itu, soal ujian  berbentuk pilihan ganda sangat rentan melahirkan perilaku  menyontek. Oleh karena itu, jenis soal ujian dimaksud seharusnya  dihindari. Ujian nasional dengan melibatkan tenaga pengawas  dari perguruan tinggi, atau juga  polisi tidak akan mampu mencegah penyimpangan. Apalagi, penyimpangan yang dimaksudkan adalah  untuk mengejar target kelulusan. Maka,  apa saja yang menjadikan peserta didik bermental menyimpang harus dihindari.
 
Dengan demikian rasanya beda antara menyontek dan korupsi sangat tipis. Korupsi hanya kelanjutan dari perilaku menyontek yang ditumbuh-kembangkan sejak usia anak-anak, tatkala mereka belajar di sekolah. Oleh karena itu, mengurangi perilaku korup seharusnya dimulai sejak dini, yaitu sejak mereka berada di lingkungan sekolah. Guru dan juga ahli pendidikan harus mampu menciptakan suasana belajar dan evaluasi, atau ujian yang sekiranya tidak bisa dicontek. Melarang menyontek  dengan cara mengawasi ujian secara ketat sama halnya dengan memberantas kurupsi hanya dengan memenjarakan para koruptor. Nyontek dan korupsi ternyata pada esensinya mirip, dan rupanya  bentuk penyimpangan itu  merupakan perilaku  berkenajutan. Konsep pendidikan sekarang ini rupanya harus ditinjau kembali agar tidak melahirkan perilaku korup. Wallahu a’lam.
Oleh : Moh. Safrudin, S.Ag, M.PdI(ketua lembaga Rijalul ansor Sultra Staf Pengajar IIQ janatu Adnin Kendari) 


Baca Selengkapnya ....

SISWA BERPRESTASI MAN 1 KENDARI

Posted by e-absen rapat Minggu, 10 November 2013 0 komentar
Kali ini Uda Go! Blog akan mengetengahkan artikel opini tips ampuh menjadi siswa berprestasi di sekolah. Pembahasan ini sebenarnya kelanjutan dari tips meningkatkan prestasi belajar siswa yang sudah diposting beberapa waktu lalu.
Menjadi siswa berprestasi  yang bagus di sekolah, kadang-kadang menjadi  hal  yang rumit untuk diwujudkan bagi sebagian siswa. Namun sebagian lagi tidak ambil pusing dengan hal ini. Yang penting dapat menjalani proses pembelajaran sebagaimana mestinya setiap hari.
Apa tolok ukur siswa berprestasi? Tidak ada formulasi yang baku tentang hal ini. Siswa dikatakan berprestasi di sekolah apabila memperoleh hasil belajar yang sangat memuaskan. Benar! Tapi sangat memuaskan bagaimana? Ada juga yang mengelompokkan siswa berprestasi itu mampu meraih peringkat 10 besar. Ada pula yang mengatakan berprestasi itu sampai peringkat 3 besar. Atau bila siswa mampu meraih juara 1.  Semuanya benar!
Biasanya, siswa yang meraih juara 1 sampai 3 saat menerima rapor akan diumumkan oleh guru dan tampil ke depan siswa lainnya. Ada juga saat menerima rapor bersama orang tua sehingga siswa berprestasi tersebut tampil di podium bersama orang tuanya. Ini pastilah sangat membahagiakan siswa dan orang tuanya.
Bagi sobat yang pengin menjadi siswa berprestasi atau orang tua yang pengin anaknya berprestasi di sekolah, berikut ini dikemukakan tipsnya:
1.Membagi waktu dengan baik
Seorang siswa harus bisa membagi waktunya dengan baik agar berprestasi di sekolah. Bisa membagi waktu antara belajar, bermain, membantu orang tua, istirahat, termasuk main facebook-an, twiter-an atau blogging bagi yang sudah terlanjur hobi berselancar di dunia maya.
2.Meminati semua mata pelajaran
Kurang menyukai satu atau beberapa mata pelajaran di sekolah merupakan suatu kerugian bagi siswa yang ingin berprestasi. Mengapa? Otomatis nilai pada mata pelajaran ini juga kurang memuaskan sehingga mempengaruhi jumlah nilai semua mata pelajaran. Oleh sebab itu, sukai dan pelajari dengan sungguh-sungguh semua mata pelajaran. Jika ada mata pelajaran tertentu yang memang kurang disukai pelajari juga bagaimana meminati mata pelajaran tertentu.
3.Menunjukkan sikap dan prilaku baik
Guru lebih cenderung akan tertarik kepada siswa yang bersikap dan berprilaku baik. Lumrah, kalau guru akan membenarkan saja jawaban siswa yang sedikit salah dalam ulangan karena sikap dan prilaku siswa yang baik. Guru tidak akan ‘pelit’ memberi nilai. Sikap dan tingkah laku siswa termasuk unsur penilaian dalam pendidikan.
4.Rajin mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah
Kesalahan yang umum dilakukan siswa adalah kemalasan mengerjakan tugas dan pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru. Pertama sekali yang dilihat guru adalah,  apakah tugas yang diberikan ada dikerjakan siswa atau tidak. Guru belum melihat apakah yang dikerjakan siswa, benar atau salah. Nah, jika semuanya dikerjakan dan ternyata pekerjaan siswa benar, peluang emas bagi siswa untuk mendapat nilai yang memuaskan.
5.Aktif dalam kegiatan belajar
Guru akan menandai siswa yang aktif dalam belajar di ruang kelas. Keaktifan siswa dalam belajar ditandai dengan aktivitas siswa, baik bertanya maupun menjawab pertanyaan lisan yang diajukan oleh guru.
6.Memiliki motivasi yang tinggi
Untuk menjadi siswa berprestasi perlu adanya motivasi atau dorongan semangat yang tinggi untuk belajar dan meraih prestasi. Oleh sebab itu siswa perlu meningkatkan motivasi belajar sendiri. Faktanya, jarang ada siswa yang rendah motivasi belajarnya akan mendapat juara di kelas.
7.Menguasai cara belajar yang efektif
Siswa yang menguasai cara belajar efektif akan mudah untuk mencapai hasil belajar yang memuaskan. Termasuk di dalamnya bagaimana cara menghadapi ujian kenaikan kelas. Nilai ujian kenaikan kelas memiliki prosentase yang lebih besar dari unsur-unsur penilaian yang lain.
8.Taat beribadah
Siswa yang taat beribadah kepada Allah SWT akan selalu berdoa untuk kesuksesan dirinya dalam menggapai hasil belajar yang baik. Mereka memiliki keterkaitan spiritual yang kuat dengan Yang Maha Kuasa

Baca Selengkapnya ....

Hj. Syamsiar mengalungkan bunga kepada siswa berprestasi Olimpiade sain

Posted by e-absen rapat 0 komentar
Malang, Humas  Madrasah harus mampu tampil lebih baik dari masa  kemasa. kompetisi yang dilaksanakan di kalangan madrasah perlu disokong oleh semua pihak untuk tetap di pertahankan dan ditingkatkan.
Sekjen Kemenag RI Bahrul Hayat mengatakan  kita akan memperhatikan alokasi anggaran untuk setiap kompetisi yang melibatkan madrasah ini, kalau dapat akan kita tingkatkan dari masa kemasa. kompetisi ini menghasilkan siswa yang berprestasi di bidangnya, seandainya ada siswa yang berprestasi ini putus sekolah karena kekurangan biaya maka laporkan kepada kami untuk dapat dibantu biaya sekolahnya pernyataan ini disampaiakan ketika menutup acara AKsioma dan KSm Nasional di Malang.
Dari hasil Pengumuman Panitia Pada KSM dan Aksioma di malang ini sultra MAN 1 kendari berhasil memperoleh 1 perunggu untuk mata pelajaran FISIKA sedangkan juara umum AKSIOMA dan KSM berhasil di sandingkan oleh kontingen Jawa Timur

Baca Selengkapnya ....
Ricky Pratama's Blog support EvaFashionStore.Com - Original design by Bamz | Copyright of MAN 1 KENDARI.