Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sekretaris Ditjen Pendis: Orang Sukses Pasti mempunyai Komitmen dan Integritas yang Bagus

Posted by e-absen rapat Selasa, 17 Juni 2014 0 komentar
"20% dari sistem pendidikan di Indonesia adalah pendidikan Islam, oleh karena itu peran pendidikan Islam dalam memajukan kualitas pendidikan di Indonesia menjadi bagian substantif dan elementer", ungkap Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin.

"untuk melaksanakan peran tersebut diperlukan pendanaan sebagai biaya operasional dan pengabdian kepada masyarakat sehingga mampu mencapai apa yang dituju. Pembiayaan ini di dalam pengelolaannya harus menerapkan prinsip transparasi dan akuntabilitas publik," ujar Kamaruddin Amin dalam acara Workshop Penatausahaan Perbendaharaan Tingkat Kanwil, PTAIN dan Kankemenag di Batam (23/5/2014).

Kamaruddin juga menjelaskan tentang tantangan dalam menjalankan program pendidikan Islam yang harus dihadapi mulai dari pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi Islam, "untuk perguruan tinggi, pertama; ada permasalahan relevansi antara kebutuhan pasar dengan output perguruan tinggi di Indonesia sehingga alumni perguruan tinggi tidak mendapatkan pekerjaan yang layak dan kegamangan dalam berwirausaha, untuk itu diperlukan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pasar, "Jelas Kamaruddin.

Kedua; lanjut Kamaruddin kompetitif ness yaitu para alumni perguruan tinggi kalah dalam persaingan dibanding dengan alumni dari negara lain baik dari sisi akademik, penelitian dan industri hal ini menjadi ironis dengan banyaknya jumlah penduduk di Indonesia dan yang ketiga; adalah akses belajar hanya 27% dari anak yang berumur 19-23 tahun, bandingkan dengan Thailand dan Malaysia yang mencapai 44% dan 40%, "Di Indonesia hanya mempunyai 1.790 Doktor padahal untuk menjadi World Class University dosen harus bertitel Doktor, untuk itu Ditjen Pendidikan Islam pada tahun 2015 akan menawarkan program beasiswa 1.000 Doktor, "kata Kamaruddin.

Untuk pendidikan Madrasah, di tingkat Madrasah Aliyah Kamaruddin menyatakan baru 78% yang mengenyam pendidikan, sisanya tidak bisa karena miskin, solusinya adalah meningkatkan angka partisipasi kasar, ditargetkan pada tahun 2020 mencapai 98% yang diimbangi dengan pembangunan infrastruktur dan peningkatan mutu guru, sedangkan untuk Pendidikan Dasar sudah sangat bagus bahkan terbaik di Asia Tenggara hanya tinggal 5% yang belum tersentuh dengan pendidikan dasar, prestasi tersebut mendapatkan penghargaan dari UNESCO dan dibandingkan dengan China Indonesia lebih baik.

Pelatihan ini diharapkan bisa menambah pengetahuan teknis, "adalah sebuah keharusan untuk siapapun, kalau diberikan posisi apapun yang pertama dilakukan adalah membaca tentang aturan-aturan yang terkait dengan jabatan dengan segala konsekuensinya, "ucap Kamaruddin. diakhir pembicaraannya Kamaruddin berpesan kepada para peserta bahwa disamping mempunyai kemampuan hendaknya selalu berkomitmen dan berintegritas dalam menjalankan amanah, "Insya Allah tidak ada masalah dan berhasil karena orang sukses pasti mempunyai komitmen dan integritas yang bagus, "tutup Kamaruddin.
(acm/ra)

Baca Selengkapnya ....

KISAH KEPSEK DI AMERIKA

Posted by e-absen rapat 0 komentar
Sekitar 1.000 guru dan kepala sekolah mendapat pelatihan tentang pendidikan berbasis kepemimpinan pada Sabtu, 5 April 2014. Mereka mengikuti seminar tentang metode mengajar yang menitikberatkan pada pengembangan kepribadian anak yang diselenggarakan Yayasan Tunas Mulia Adi Perkasa.

Para peserta seminar bertajuk “Creating Leadership Culture” itu mendapat tamu istimewa, yaitu Muriel Summers, Kepala Sekolah Dasar A.B Comb, North Carolina. Dia mendapat predikat kepala sekolah terbaik karena berhasil memimpin sekolah yang hampir ditutup itu menjadi sekolah unggulan.

Summers mengatakan, keberhasilan itu diraih setelah sekolahnya menerapkan metode pengajaran yang berbeda. Ketimbang berfokus meningkatkan nilai anak, para guru menanamkan tanggung jawab dan manfaat belajar kepada siswa. “Hasilnya anak belajar lebih gembira dan nilai mereka ikut meningkat,” katanya.

Kunci keberhasilan metode ini adalah pendekatan guru kepada siswa. Guru, kata dia, tak boleh menghakimi siswa. Summers kemudian berbagi pengalaman mengajar seorang anak bernama Jason Stines yang dicap sebagai siswa bermasalah. Siswa itu masuk ke SD A.B Comb ketika menginjak kelas 5.

Dari awal datang, penampilan Jason sudah terlihat urakan dengan celana hipster dan rambut yang acak-acakan. “Dia mengucapkan kata-kata yang tak pantas dan kasar, tapi kemudian saya bilang di sekolah ini kita tidak bicara kasar,” kata Summers. “Anak ini sudah tujuh kali pindah sekolah.”

Sebulan pertama, Jason memang masih sering membuat onar, tetapi sekolah sudah meminta agar siswa lain membantu Jason. Beberapa bulan kemudian, Jason mulai memiliki teman. “Nilainya yang dulu hanya terdiri dari D dan F juga meningkat menjadi B,” katanya.

Bertahun-tahun kemudian, Jason lulus dari sekolah menengah atas dengan nilai yang bagus. Dia bahkan mendapat beasiswa penuh ke Universitas South Carolina karena berprestasi di bidang olahraga. “Hal yang paling membanggakan bagi sekolah kami bukanlah penghargaan, tapi keberhasilan kami mengarahkan anak-anak seperti Jason,” kata Summers.

Hal lain yang tak kalah penting adalah menanamkan manfaat belajar kepada anak. Summers menyarankan agar guru menggunakan cita-cita mereka untuk mengajak anak belajar. “Misalnya, anak harus belajar matematika jika ingin menjadi insinyur, dokter, presiden, atau menteri. Soalnya semua membutuhkan kemampuan berlogika,” kata Summers. “Dengan begitu anak bukan hanya mengejar nilai akademis tanpa tahu apa manfaatnya.”

Satu peserta seminar, Asnaleli dari SDN Tanjung Barat 07, mengaku terkesan dengan metode mengajar itu. Dia mengakui, selama ini guru amat terbebani dengan target prestasi akademik anak, terutama di sekolah negeri. “Kalau mau meningkatkan mutu pendidikan memang harus dari hal yang paling dasar seperti ini,” katanya. (Baca juga: 5 SD DKI Jadi Pilot Project Pendidikan Pemimpin)

Baca Selengkapnya ....

Pidato Yang Menampar Dunia Pendidikan

Posted by e-absen rapat Kamis, 04 Juli 2013 0 komentar
Sebuah Pidato Yang Menampar Dunia Pendidikan
Kita tentu sudah terbiasa melihat seorang lulusan terbaik dari sebuah sekolah atau kampus diundang untuk maju kedepan mimbar dan memberikan pidatonya mengenai predikat lulusan terbaik yang telah diterimanya. Umumnya para lulusan terbaik ini akan mengungkapkan betapa bersyukurnya mereka atas prestasi yang telah dicapainya tersebut dan mengucapkan banyak sekali untaian ucapan terimakasih pada orang-orang yang menurut mereka telah berjasa membantu mereka meraih predikat tersebut.
Namun bagaimana jika pidato yang disampaikan tersebut bukannya menunjukan betapa bangganya sang lulusan akan predikat tersebut namun justru sebuah pidato yang sangat brilian dan mecengangkan yang justru menampar secara keras wajah dunia pendidikan. Pidato ini disampaikan oleh seorang lulusan dari sebuah Universitas (pada beberapa sumber dikatakan bahwa ini pada jenjang pendidikan setingkat SMA) terkemuka diluar negeri. Berikut ini isi pidato tersebut yang Saya sadur dari sebuah sumber. Sedangkan untuk videonya bisa Anda lihat disini.
Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.

Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….

Yah inilah wajah pendidikan di dunia saat ini. Tak perlu jauh-jauh melihat keluar negeri, mari kita tengok saja di negara kita sendiri. Pendidikan yang kita jalankan lebih banyak menitik beratkan pada nilai (nilai UN atau IPK). Pendidikan yang seharusnya lebih menekankan pada proses dan pengembangan potensi peserta didik justru terkadang mematikan potensi itu. Siswa, serta juga mahasiswa, didoktrin untuk terus menghapalkan dan mempelajari berbagai materi yang lucunya sebagian besar justru tidak akan berguna saat mereka bekerja ataupun hidup bermasyarakat.

Berbagai kegiatan positif yang membantu pengembangan potensi peserta didik dilingkungan pendidikan, seperti ekstrakulikuler di sekolah atau berbagai jenis himpunan dan UKM di Perguruan Tinggi, justru dibelenggu dengan pembatasan anggaran dan pemberlakuan jam kegiatan. Lembaga pendidikan seakan hanya ingin mengembangkan potensi akademis peserta didik dan melupakan berbagai potensi lain yang mungkin dimiliki peserta didik tersebut.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa sekolah dan kuliah itu tidaklah penting karena pendidikan membuat kita memiliki pengetahuan. Tapi alangkah lebih baik jika pengetahuan itu juga ditunjang dengan pengembangan pola pikir peserta didik sehingga kita mampu menggunakan pengetahuan itu dengan cara yang paling bijaksana dan tepat. Bukankah pendidikan seharusnya membantu peserta didik untuk mengetahui siapa dirinya serta apa potensinya dan menyediakan segala sarana dan prasarana sehingga potensi itu bisa berkembang dengan sebaik-baiknya sehingga mereka mampu sukses dalam hidupnya.

Saya jadi teringat sebuah kalimat yang menurut Saya sangat mengena, tapi Saya lupa pernah membaca atau melihatnya dimana. "Orang-orang yang dulunya adalah siswa berprestasi di kelasnya umumnya akan berakhir sebagai seorang pegawai dari sebuah perusahaan, sementara teman-teman mereka yang dulunya biasa-biasa saja atau bahkan mungkin bodoh akan menjadi orang-orang yang menjadi pemilik perusahaan yang menggaji mereka". Sebuah kalimat yang lebih menohok pernah diutarakan oleh Paulo Freire, jika Saya tidak salah ingat, "Nenekku menginginkanku menjadi orang pintar, maka Ia melarangku ke sekolah".

kutip dari :http://tobeeinspired.blogspot.com/2013/07/sebuah-pidato-yang-menampar-dunia.html

Baca Selengkapnya ....

Kurikulum pendidikan 2013 tidak bisa diterapkan

Posted by e-absen rapat Senin, 13 Mei 2013 1 komentar
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menilai mekanisme pelaksnaan kurikulum 2013 tidak jelas. Karenanya tidak bisa diterapkan secara menyeluruh pada tahun ajaran baru nanti. "Kalau dipaksakan, kurikulum akan hancur karena semuanya belum siap. Bahkan penandatanganan dokumen kurikulum saja belum dilaksanakan hingga saat ini meski tahun ajaran baru akan dimulai sebentar lagi," ujar Ketua Pengurus Besar (PB) PGRI Pusat Drs Sugito MSi kepada wartawan, di AMC UMY. Minggu (12/5). Menurut mantan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY tersebut, belum adanya penandatanganan dokumen kurikulum membuat proses penggandaan buku dan silabus pun hingga kini tidak bisa diselesaikan. Jadwal pelatihan bagi para guru pun akhirnya ikut mundur karena masalah tersebut. Padahal mereka tidak bisa menerapkan kurikulum tersebut kepada anak didik bila tidak dilakukan pelatihan terlebih dahulu. Sementara anggaran untuk pelaksanaan kurikulum dari pemerintah tidak sesuai permintaan kementerian pendidikan dan kebudayaan (kemendikbud). Dari dana sebesar Rp2,4triliun yang diminta kemendikbud, pemerintah hanya menurunkan dana sebesar Rp880 miliar. "Akibatnya sasaran sekolah yang menerapkan kurikulum ini pun akhirnya dikurangi. Kalau dulunya 30% di tingkat SD, maka dikurangi jadi 5% saja dan di tingkat SMP hanya 30%," ungkapya. Dengan munculnya berbagai persoalan tersebut, PB PGRI meminta penerapan kurikulum 2013 sebatas uji coba. Kemendikbud RI tidak perlu memaksakan diri untuk menerapkan kurikulum baru tersebut secara menyeluruh. Selama setahun kedepan Kemendikbud bisa melakukan evaluasi penerapan kurikulum. Hasil dari evaluasi tersebut bisa dilakukan pembenahan dengan anggaran yang baru. "Bila kurikulum hanya diterapkan sebagai pilot project dan belum final, maka kemendikbud bisa melakukan pembenahan disana-sini agar kedepannya lebih baik," ungkapnya.

Baca Selengkapnya ....

Penyebab guru tidak disenangi siswa

Posted by e-absen rapat Sabtu, 11 Mei 2013 0 komentar
Guru selayaknya di guru dan ditiru dengan catatan langkah, perbuatan serta ucapannya sesuai dengan hukum ,aturan serta norma yang berlaku. Tidak jarang dan sering terdengar di pihak wali murid ada yang suka membicarakan seorang guru tentang mengajarnya atau siswa didik yang curhat terhadap orang tuanya dengan kejadian –kejadian seorang guru di sekolahnya.
Banyak guru di sekolah tidak sadar jika anak didiknya kurang suka sama dirinya. karena sudah sesuai dengan tupoksi, padahal di masyarakat dan siswa didik banyak yang membicarakan dan mengucapkan tidak suka.
Melalui artikel sederhana ini , saya akan menuliskan  factor-faktor yang menyebabkan siswa tidak suka kepada gurunya. Tulisan ini saya buat hasil dari interview dengan anak serta dengan pertanyaan quiz. Kegiatan ini saya lakukan ditempat kerja saya dengan hasil kesimpulan. Bahwa ada faktor penyebab guru tidak di senangi siswa diantaranya :
  1. Guru banyak menyuruh siswa mencatat materi  tetapi guru tidak mau menjelaskan.
  2. Dalam mengajar  terlalu monoton  dengan menggunakan metode ceramah yang tidak interktif.
  3. Guru tampak bringas, tegang kurang menunjukkan rasa kasih sayang.
  4. Kurang menghargai siswa
  5. Malas atau jarang masuk kerja
  6. Datang untuk mengajar selalu kesiangan tidak tepat waktu.
  7. Terlalu banyak memberikan tugas –tugas  dengan jumlah banyak.
  8. Saat pelaksanaan pembelajaran dari awal hingga akhir guru hanya diam dan duduk ditempat atau dikantor.
  9. Menjelaskan materi terlalu cepat, tidak peduli terhadap siswa mau paham atau tidak terpenting menjelaskan.
  10. Sering memarahi siswa dengan permasalahan yang tidak besar.
  11. Sering memukul, merendahkan siswa dan mengolok-olok siswa
  12. Tidak menjenguk saat ada siswa sakit.
  13. Kurang menguasai materi, metode dan model pembelajaran.
  14. Kurang memiliki rasa kasih sayang bahwa siswa didik adalah anak kita juga.
  15. Tidak pernah senyum di kepada siswa.
Tulisan ini bertujuan untuk mengevaluasi diri saya sendiri dan mudah-mudahan bermanfaat untuk orang lain sesama pendidik.

Baca Selengkapnya ....

antara ketiban ilmu dan menuntut ilmu

Posted by e-absen rapat Jumat, 10 Mei 2013 0 komentar
Semakin maju teknologi elektronik semakin beragam bentuk media yang hadir di depan kita. Jika zaman dahulu belajar dan berita ditularkan dengan amat lambatnya, sekarang semuanya serba cepat. Siapa lebih cepat, dialah yang dapat. Maka mengenallah kita berbagai acara langsung yang seolah tidak berjarak lagi antara watu kejadian nyata dan informasi yang kita terima. Kemajuan ini sangat berpengaruh sekali pada berbagai lini kehidupan. Mulai dari sistem pembelajaran yang dikenal denga istilah e-learning, sisi administrasi ada e-KTP demikian juga dalam dunia dakwah. Bagi sebagian orang yang percaya akan mitos teknologi dan obyektivitas media, menanggapi kemajuan ini dengan penuh keriangan karena hal tersebut meringankan kewajiban dalam mencari ilmu ‘thalabul ilmi’ sebagaimana seruan Rasulullah saw yang telah masyhur ‘uthlubul ilma wa lau bis-shin’ carilah ilmu sampai negeri cina. Benarkah demikian? cukupkah criteria mencari ilmu itu hanya dengan duduk-duduk di depan televisi sambil minum teh dan menyimak para ustadz berceramah? Atau dengan memainkan mouse di depan computer secara oline dan menziarahi berbagai situs Islam? cukupkan semua itu? Mengenai gambaran ini Muallim KH. Syafi’I Hadzami pernah mengatakannya sebagai ketiban ilmu bukan mencari ilmu (thalabul ilmi). Memang mendengarkan berbagai materi dakwah melalui media apapun merupakan amal baik dan insyaallah banyak memberi manfaat. Namun jika caranya seperti gambaran di atas tanpa ada usaha yang ‘merpotkan’ itu belum layak disebut mencari atau menuntut ilmu, mengaji, juga bukan thalabul ilmi. Karena sesungguhnya thalabul ilmi itu mensyaratkan wujudnya seorang guru yang akan membimbing dan mengarahkan serta memberikan sui tauladan praktis (aplikatif) dalam dunia nyata. Atau dalam bahasa jawa yang bisa digugu dan ditiru (bisa didengarkan fatwa kebenarannya dan dicontoh tindak lakunya). Oleh karena itu jika tidak dijumpai seorang guru, hendaklah ia mencarinya hingga ketemu walaupun dengan berjalan sejauh jarak negeri Arab hingga Cina. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Allah Musa as. ketika mengarungi lautan penuh kecapaian dan letih lesu dalam rangka mencari sang Guru Nabi Allah Khidir as. أتنا غداءنا لقد لقينا من سفرنا هذا نصبا Berikanlah kepada kami makanan siang. Sesungguhnya kami telah menjumpai (merasa) letih dalam perjalanan ini. Demikianlah, bagaimana kata thlabul ilmi identik dengan thalabul mursyid dan thalabus syaikh sebagai penunjuknya. Begitu pentingnya posisi seorang guru dalam pencarian petunjuk seperti yang diterangkan oleh Ibn Ruslan dalam Zubad­-nya. من لم يكن يعلم ذا فليسأل * من لم يجد معلما فليرحل Barang siapa yang tidak mengetahui akan sesuatu masalah hendaklah ia bertanya. Barang siapa yang tidaj mendapatkan guru, hendaklah ia berlayar. Kata berlayar dalam konteks syi’ir diatas adalah bepergian yang selayaknya menyertakan proses usaha keras, letih dan capek. Wallahu a’lam bis-showab.

Baca Selengkapnya ....

Penulisan Lafazh Salam Dan Kekeliruannya

Posted by e-absen rapat 0 komentar
Pembaca kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, ucapan salam adalah sunah yang diajarkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi sebagian kaum muslimin salah dalam mengucapkannya, sebagian salah dalam menuliskan atau melafazhkan, sebagiannya lagi salah dalam mengucapkan salam dengan meringkasnya menjadi kata yang tidak lagi menjadi salam.
Dalam bahasa arab, tulisan salam secara lengkap adalah seperti ini,
Pembacaannya adalah “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh”, kalau mau terperinci panjang pendeknya di tulis “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh”, perhatikan panjang dan pendeknya

Makna kalimat salam tersebut di antaranya adalah, “Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkah-Nya tercurah kepadamu.”
Ucapan salam di atas adalah bentuk salam yang paling sempurna, adapun bentuk pengucapan lain bisa dengan mengucapkan,
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
“Assalamu ‘alaikum warahmatullah”
Atau,
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ
“Assalamu ‘alaikum”
Dasarnya adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ ثُمَّ جَلَسَ فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- : عَشْرٌ . ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ : عِشْرُونَ . ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ : ثَلاَثُونَ
Dari Imran Ibn Hushain radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengucapkan “Assalamu ‘alaikum”. Nabi menjawab salam itu, lalu orang itu duduk. Nabi berkata, “sepuluh (kebaikan)”. Kemudian datang orang lain dan mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah”. Nabi menjawabnya, lalu orang itu duduk dan Nabi berkata, “Dua puluh (kebaikan)”. Kemudian datang orang lain lagi dan mengucapkan “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh”. Nabi membalas salamnya lalu dia duduk dan Nabi berkata, “Tiga puluh (kebaikan).” (HR. Abu Daud)
Membalas Salam
Adapun bentuk membalas salam adalah berdasarkan firman Allah ta’ala dalam surat an-Nisa,
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An Nisa’: 86)
Dalam ayat ini Allah ta’ala memerintahkan kita untuk membalas salam dengan yang lebih baik, sehingga kalau yang memberi salam mengucapkan,
“Assalamu ‘alaikum”
Maka minimal kita jawab dengan mengucapkan,
“Wa ‘alaikumus salam”
Kalau kita ingin membalas dengan yang lebih lengkap dengan mengucapkan,
“Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullah”
Atau,
“Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullahi wabarakatuh”
Maka ini lebih baik.
Jadi apabila yang memberi salam mengucapkan lafazh yang lengkap, maka sepantasnya kita untuk membalas dengan ucapan salam yang lengkap juga.
Perhatian!!
Kesalahan yang sering ditemui dalam pengucapan salam adalah penyingkatan salam dengan tulisan “ass”, “ass.wr.wb”, “asw” atau yang lainnya, maka ucapan seperti ini bukanlah salam, hendaknya ketika menulis komentar, sms atau media lainnya kita tidak menuliskan seperti itu. Tulislah dengan lafazh yang benar seperti “assalamu ‘alaikum”, atau kalau memang tergesa-gesa tidak di tulis juga tidak apa-apa.
Semoga bermanfaat…
Penjelasan lengkap tentang salam ini silakan merujuk ke blog saudara kita Muhammad Abduh Tuasikal di link ini:
Tebarkanlah Salam
sumberhttp://badaronline.com/

Baca Selengkapnya ....

SHALAT DHUHA MAN 1 KENDARI

Posted by e-absen rapat Selasa, 07 Mei 2013 0 komentar
IBU DRA. HJ. SYAMSIAR, S.Pd, M.Hum SEDANG MEMANTAU KEGIATAN SHALAT DUHA DI PAGI HARI
Shalat dhuha adalah shalat sunat yang dikerjakan pada waktu dhuha. Yaitu waktu ketika matahari terbit hingga terasa panas menjelang shalat Dzuhur. Mungkin dapat diperkirakan sekitar pukul tujuh sampai pukul sebelas. Shalat dhuha sebaiknya dilakukan setelah melewati seperempat hari. Artinya, jika satu hari (12 jam, terhitung dari pukul 5 pagi – pukul 5 sore) dibagi empat maka shalat dhuha sebaiknya dilakukan pada seperempat kedua dalam sehari, atau sekitar pukul sembilan. Sehingga setiap seperempat hari selalu ada shalat. Terhitung dari shubuh sebagai shalat pertama mengisi waktu paling dini. Kemudian shalat dhuha sebagai shalat kedua. Ketiga shalat dhuhur dan keempat shalat ashar. Jika demikian maka dalam satu hari keidupan kita tidak pernah kososng dari shalat.
Shalat dhuha memiliki beberapa fadhilah yang pertama adalah mengikuti sunnah Rasulullah saw. sebagaimana beliau berwasiat kepada Abu Hurairah, ia berkata
 عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه قال : " أوصاني خليلي بثلاثٍ : صيامِ ثلاثةِ أيامٍ من كل شهر ، وركعتي الضحى ، وأن أوتر قبل أن أنام " ( رواه البخاري 
Rasulullah saw, kekasihku itu berwasiat padaku tiga hal pertama puasa tiga hari setiap bulan, kedua dua rakaat dhuha (setiap hari), ketiga shalat witir sebelum tidur.
Diantara fadhilah yang lain adalah menjadikan diri bersih dari dosa yang memungkinkan terkabulnya segala do’a. Sebagaimana hadits Abu Hurairoh
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : " مَنْ حَافَظَ عَلَى سُبْحَةِ الضُّحَى غُفِرَتْ ذُنُوبُهُ ، وَإِنْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ "
Barang siapa menjaga shalat dhuha, maka Allah akan mengampunin segala dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.
Dan yang tidak kalah penting adalah fadhilah yang langsung ditegaskan oleh Allah melalui Rasulullah saw dalam hadits Qudsi
 عن أبي الدرداء وأبي ذرِّ ( رضي الله عنهما ) عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : عن الله تبارك وتعالى أنه قال : ابن آدم ، اركع لي أربع ركعاتٍ من أول النهار أكفك آخره " ( رواه الترمذي )
Dari Abi Darda’ dan Abi Dzar dari Rasulullah saw (langsung) dari Allah Tabaraka wa Ta’ala “ruku’lah untukku empat rakaat di permulaan hari (pagi), maka Aku akan mencukupimu di sisa harimu”  
Shalat dhuha minimal dilaksanakan dua raka’at, dan yang baik adalah empat rekaat sedangkan sempunanya adalah enam raka’at, dan yang paling utama adalah ukuran maksimal yaitu delapan rakaat.Shalat dhuha sebaiknya dilakukan dua rakaat untuk satu kali salam, walaupun boleh melangsungkannya dalam empat raka’at sekaligus. Untuk dua rakaat shalat dapat dimulai dengan niat أصلى سنة الضحى ركعتين لله تعالى  Ushalli sunnatad dhuha rak’ataini lillahi ta’ala. Aku niat shalat dua dua raka’at karena Allah.
Kemudian dilanjutkan dengan bacaan al-Fatihah dan disusul kemudian surat was-Syamsi wa dhuhaha untuk raka’at pertama dan qul ya ayyuhal kafirun  untuk raka’at kedua. Demikianlah selanjutnya diulang dengan bacaan surat semampunya.Adapun bacaan do’a dalam shalat dhuha sangatlah beragam akan tetapi yang masyhur adalah
 اللَّهُمَّ إنَّ الضُّحَى ضَحَاؤُك وَالْبَهَا بَهَاؤُك وَالْجَمَالُ جَمَالُك وَالْقُوَّةُ قُوَّتُك وَالْقُدْرَةُ قُدْرَتُك وَالْعِصْمَةُ عِصْمَتُك اللَّهُمَّ إنْ كَانَ رِزْقِي فِي السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا فَيَسِّرْهُ وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَإِنْ كَانَ بَعِيدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضَحَائِكَ وَبِهَائِك وَجَمَالِك وَقُوَّتِك وَقُدْرَتِك آتِنِي مَا آتَيْت عِبَادَك الصَّالِحِينَ
allahumma innad dhuhaa dhuha uka, wal bahaa bahaa-uka, wal jamaala jamaa-luka, wal quwwaata quwwatuka, wal qudrota qudrotuka, wal ishmata ishmatuka. allahumma inkaana rizqi fis-samaa-i fa-anzilhu, wainkaana fil-ardli fa akhrijhu, wainkaana mu’siron fayassirhu, wainkaana charooman fathohhirhu, wainkaana ba’iidan faqorribhu, bichaqqi dhuhaaika, wajaamalika, wabahaaika, waqudrotika, waquwwatika, waishmatika, aatini maa’ataita ‘ibaadakash-sholichiin. 
(ya allah sesungguhnya waktu dhuha adalah dhuha-mu, dan keindahan adalah keindahan-mu, dan kebagusan adalah kebagusan-mu, dan kemampuan adalah kemampuan-mu, dan kekuatan adalah kekuatan-mu, serta perlindungan adalah perlindungan-mu. ya allah apabila rizqiku berada dilangit maka mohon turunkanlah, bila di bumi mohon keluarkanlah, bila sulit mudahkanlah, bila jauh dekatkanlah, dan bila haram bersihkanlah, dengan haq dhuha-mu, keindahan-mu, kebagusan-mu, kemampuan-mu, kekuatan-mu dan perlindungan-mu, berikanlah kepadaku apa saja yang engkau berikan kepada hamba-hambamu yang sholeh).












 pak safrudin lagi melihat kedepan


Baca Selengkapnya ....

Wamenag: Indonesia Tanpa UN Terancam Disintegrasi

Posted by e-absen rapat Minggu, 05 Mei 2013 0 komentar
 Wamenag: Indonesia Tanpa UN Terancam Disintegrasi
FotoJakarta (Pinmas)— Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa ujian nasional (UN) yang diselenggarakan dari tahun ke tahun masih relevan untuk tetap dipertahankan karena jika dihapus bakal berpotensi terjadinya disintegrasi bangsa.
“Bakal terjadi keadaan tidak bersatu padu, terpecah belah, hilang keutuhan atau persatuan, karena itu UN perlu dipertahankan,” katanya ketika melakukan peninjauan UN di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 19 di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan, Senin.
Didampingi Direktur Pondok Pesantren Ace Saefuddin dan sejumlah pejabat Kemenag lainnya, Wamenag sempat mendapat penjelasan dari Kepala MTs Negeri 19 H. Wawan M tentang jalannya UN di madrasah tingkat menengah tersebut.
UN 2013 di Jakarta diikuti 15.968 siswa dengan rincian Jakarta Pusat (443 siswa), Jakarta Utara (1.549), Jakarta Barat (3.237), Jakarta Selatan (4.919), Jakarta Timur (5.750) dan Kepulauan Seribu (70).
Secara nasional, UN 2013 untuk madrasah diikuti 1.659.717 siswa terdiri dari 484.230 siswa madrasah ibtidaiyah (MI/SD), 829.884 siswa madrasah tsanawiyah (MTs/SMP), dan 345.603 siswa madrasah aliyah (MA/SMA).
UN pada 2013 ini, menurut Nasaruddin, memang dihadapkan pada adanya kritik tajam terkait persoalan teknis, seperti keterlambatan pendistribusian soal ketika berlangsung UN untuk tingkat sekolah lanjutan atas pekan lalu.
Namun hal itu jangan membuat semua pihak saling menyalahkan, sehingga tenaga atau energi terkuras hanya untuk membahas hal itu.
Justru kekuatan harus diarahkan bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan ke depan lebih baik.
“Jika UN ditiadakan, justru Indonesia akan dihadapkan kepada sejumlah kesulitan, antara lain tak bisa memetakan tingkat kemampuan siswa terhadap hasil penyelenggaraan pendidikan selama ini,” katanya.
Jika terjadi ketimpangan pendidikan antara satu wilayah dengan wilayah lain, tidak mustahil akan muncul penilaian atau pendapat bahwa pemerintah pusat hanya memperhatikan satu wilayah saja. Akan terjadi kesenjangan pendidikan yang bermuara munculnya fitnah karena pemerintah pusat dianggap lalai dengan tidak memperhatikan pendidikan.
Perbaikan mesti dilakukan. Jika ada kekurangan harus diperbaiki karena kesalahan tak boleh terjadi lagi. Jangan sampai jatuh di tempat yang sama pada pelaksanaan UN ke depan. Tetapi, lanjut dia, jika UN ditiadakan, tentu dengan berbagai implikasi yang muncul, bisa membawa disintegrasi bangsa.
Segera Perbaiki
Pada kesempatan itu, Wamenag Nasaruddin Umar menyempatkan meninjau pelaksanaan UN dari luar kelas. Ia mengaku terkejut bahwa di wilayah Jakarta, kondisi bangunan MTs Negeri 19 sangat memprihatinkan. MTs Negeri 19 berdiri di atas lahan seluas 2.400 meter persegi dengan bangunan berlantai dua.
Namun, menurut pejabat tata usaha madrasah tersebut, Amiruddin, bangunan yang dibangun pada 1995 tersebut rawan roboh, karena lahannya bertanah lembek akibat bekas rawa.
Selain itu, di berbagai tempat banyak dijumpai retakan pada tiang bentangan, sehingga untuk menjaga keselamatan siswa agar tak tertimpa bangunan dibuatkan tiang penyangga besi.
Wamenag Nasaruddin Umar minta agar pihak madrasah bersangkutan melapor kepada Dinas Pendidikan di Jakarta. “Segera perbaiki dan terlebih dahulu harus melakukan pengecekan terhadap pondasinya,” katanya.
Ia mengapresiasi madrasah ini yang telah memberi perhatian kepada para siswanya dengan cara menanamkan nilai-nilai kebersamaan. Misalnya, Shalat Dhuha dan bekerja gotong royong sehingga lingkungan madrasah terlihat asri dan bersih.
“Kekompakan antarsiswa perlu ditanamkan, sebab apa pun pelajaran yang diberikan tidak akan membuahkan hasil jika tidak disertai kebersamaan atau nilai-nilai,” katanya.(ant/ess)

Baca Selengkapnya ....

Moh. Safruddin: Ilmu Bermanfaat Dan Ilmu Tidak Bermafaat

Posted by e-absen rapat Senin, 22 April 2013 0 komentar

Ada tiga hal yang bakal kekal dalam kehidupan dunia dan akhirat pertama adalah sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang shaleh, hadis inilah yang menginspirasi tulisan saya ini, yaitu ilmu yang bermanfaat. Di lingkungan madrasah atau pesantren, saya sering mendapatkan nasehat dari para kiyai dan guru saya bahwa ilmu   setidaknya dibedakan menjadi dua, yaitu ilmu yang memberi manfaat dan ilmu yang tidak memberi manfaat. Para santri biasanya dianjurkan untuk hanya mencari ilmu yang akan mendatangkan manfaat. Maka kemudian juga dikenal ada ilmu yang memberi berkah dan ilmu yang tidak memberi berkah apa-apa. Salah satu cara, agar ilmu memberi manfaat, maka  harus dicari dengan niat yang benar, sungguh-sungguh, dan ikhlas.

Apa yang diyakini oleh orang pesantren ternyata juga benar. Banyak orang yang bertahun-tahun menncari ilmu, tetapi apa yang diperoleh ternyata tidak memberi apa-apa terhadap pemiliknya.  Pemilik ilmu dimaksud  tidak beda dengan mereka yang tidak memilikinya, atau dengan mereka yang tidak pernah belajar.   Akhirnya antara yang menyandang ilmu dan yang tidak menjadi sama. Padahal seharusnya antara keduanya  berbeda. Kenyataan seperti itu menunjukkan bahwa tidak semua ilmu  memberi manfaat.
Padahal ilmu bisa didapat tanpa guru dan juga tanpa sekolah. Orang yang berilmu luas tanpa berguru dan bersekolah disebut aotodidak. Pada kenyataannya, memang banyak orang tanpa berguru dan tanpa sekolah bisa menunjukkan kepintarannya.  Sebaliknya, juga tidak sulit kita temukan,  pemegang ijazah dan juga pemakai beberapa gelar akademik, tetapi tidak menunjukkan adanya ilmu yang disandangnya.
Akhir-akhir ini,  gambaran tentang adanya ilmu yang kurang memberi manfaat sudah sedemikian mudah didapat di masyarakat. Orang yang telah lama belajar di lembaga pendidikan tetapi perilakunya tidak ada bedanya dengan mereka yang tidak pernah sekolah, termasuk juga kecakapan, kecerdasan,  dan ketrampilannya. Antara yang bersekolah dan yang tidak pernah bersekolah ternyata sudah banyak yang sama. Bahkan, kesamaan itu juga  terkait dengan tatkala mencari pekerjaan.  Di kendari beberapa waktu yang lalu, dikabarkan bahwa,  para pencari kerja  adalah justru para sarjana ( 58,57 %)
Penyandang ilmu, cerdas,  dan terampil tetapi menganggur sebenarnya adalah merupakan kesalahan yang bersangkutan sendiri. Menurut bahasa pesantren, ilmunya tidak bermanfaat. Atau sebenarnya, mereka itu belum berilmu dan sekaligus belum cerdas. Orang yang berilmu dan cerdas sekedar mencari pekerjaan, di manapun dan kapan pun tidak akan mengalami kesulitan. Kecuali, pekerjaan yang dicari benar-benar terbatas dan terlalu selektif. Akan tetapi, apabila jenis pekerjaan yang dicari tidak terlalu selektif, seorang berilmu dan cerdas tidak akan mengalami kesulitan. Oleh karena itu,  ketika ada sarjana menganggur maka  yang perlu dipertanyakan adalam kualitas kesarjanaannya itu. Mereka sudah lulus, tetapi kelulusannya hanya sebatas formalitas, yaitu sekedar memiliki ijazah tanpa dibarengi dengan ilmu dan kecerdasan yang memadai.
Dalam Islam diajarkan bahwa,  mencari ilmu itu   adalah wajib. Waktunya tidak terbatas, yaitu sejak di ayunan hingga sampai meninggal dunia atau disebutkan sampai di  liang lahat. Bahkan wahyu  dalam al Qur’an  yang pertama kali diturunkan adalah perintah membaca. Tentu pengertian membaca dimaksud harus dimaknai secara luas.  Membaca  tidak saja diartikan  terhadap  kitab suci, buku, atau tulisan,  melainkan juga membaca apa saja yang ada dan terbentang  di jagad raya ini. Dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, disebutkan adalah sebagai pelajaran bagi orang-orang yang mampu berpikir.
Oleh karena itu, sedemikian luas wilayah, mengikuti konsep  Islam,   obyek kajian ilmu itu. Alam semesta,  perilaku sosial,  dan  kehidupan kemanusiaan semuanya, bagi umat Islam,    adalah menjadi obyek kajian ilmu. Bahkan andaikan obyek itu dikaji tanpa henti sekalipun, dan akhirnya diperoleh dan  dimiliki oleh seseorang,  maka seluas dan sebanyak apapun, sebagaimana dinyatakan dalam  al Qur’an,   sebenarnya masih sangat sedikit. Tuhan tidak akan memberi ilmu kepada manusia, kecuali sangat sedikit.  Dan ternyata,  ilmu yang ukurannya sedikit itupun belum tentu memberi manfaat bagi pemiliknya.           
Diperingatkan bahwa,  dalam membaca atau proses  mendapatkan ilmu harus diawali dengan niat yang benar. Disebutkan bahwa tatkala membaca  sesuatu dan apalagi obyek ilmu harus dengan menyebut nama Allah. Dinyatakan  bahwa  iqra’ bismi Rabbika, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu.  Dalam belajar, meneliti atau membaca alam semesta harus mendasarkan pada perintah Allah. Dalam  menggali ilmu  harus dikaitkan dengan niat atau maksud untuk mengenal Sang Penciptanya, yaitu Allah swt. Tuhan adalah Maha Mulia, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Tahu, Maha Benar dan sifat-sifat mulia lainnya.
Mencari dan menggali ilmu dengan mengatas namakan Dzat yang memiliki sifat-sifat mulia tersebut, maka kegiatan itu   harus  mendasarkan dan bahkan  berniat atau orientasi  sebagai bagian dari upaya  mengenal Dzat Penciptanya.  Niat seperti itulah sebenarnya yang  banyak terlupakan di mana-mana. Akhirnys mencari ilmu hanya sekedar untuk mendapatkan ijazah, agar lulus ujian, dan  kelak agar  berhasil mendapatkan pekerjaan. Orientasi atau niat seperti itu akan  menjadikan hasil usahanya justru tidak memberi manfaat apa-apa. Ilmu yang diperoleh tidak meberi manfaat bagi pemiliknya. Mereka dinyatakan lulus dan  berhak mendapatkan ijazah,atau gelar, tetapi apa yang diperolehnya itu tidak memberi manfaat.
Oleh karena itu sebenarnya,  yang kurang dari proses mencari ilmu yang dilakukan  kebanyakan orang sekarang ini adalah menyangkut hal yang mendasar. Niat mencari ilmu tidak lagi dikaitkan dengan tugas-tugas ilahiyah  yaitu untuk mengenali Tuhannya. Mungkin sementara orang menganggap niat atau orientasi  seperti  itu sebagai sesuatu yang sederhana. Padahal hakekat dari mencari ilmu  adalah di sana. Niat  seperti itu dalam pandangan Islam   justru menjadi motivasi, sumber kekuatan, dan penggeraknya. Itulah sebenarnya yang disebut sebagai jiwa dan ruh ilmu pengetahuan. Mencari ilmu harus dimotivasi oleh nilai dan niat yang mulia, dan bukan hanya sekedar  untuk agar lulus, mendapat ijazah, gelar dan kehormatan. Memperbaiki motivasi dan niat itulah sebenarnya  merupakan cara menghidupkan kembali jiwa atau ruh ilmu. Wallahu a’lam.
(Staf pengajar MAN 1 kendari, Ketua Departemen Idiologi dan Agama Gerakan Pemuda Ansor Sultra Peneliti Sangia Institute)

Baca Selengkapnya ....

MOS = Kekerasan di Sekolah

Posted by e-absen rapat Jumat, 03 Agustus 2012 1 komentar
Memotong Rantai Kekerasan
Oleh M. Ghufran H. Kordi K.

Kekerasan Fisik dan psikis merupakan masalah serius di negeri ini. Penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan masalah merata disemua ruang publik. Kekerasan tidak hanya menjadi domain orang-orang yang tidak berpendidikan, masyarakat kelas bawah, dan kelompok marginal sebagaimana yang umum dituduhkan oleh akademisi dan penguasa.
Tetapi juga merupakan cara umum orang-orang yang berpendidikan tinggi dan mempunyai jabatan penting di berbagai institusi menyelesaikan masalah. Mereka yang terakhir ini juga umumnya menggunakan otot ketimbang otak.

Tawuran dan perkelahian mahasiswa telah menjadi suatu yang biasa saja, dan menjadi ikon di setiap ibukota. Sidang-sidang di parlemen mirip hewan berebut makanan sudah menjadi suatu yang umum di negeri ini. Parlemen “yang terhormat” itu kadang tidak bisa berdialog sehingga mereka saling memaki dan adu jotos.

MOS SAMA DENGAN KEKERASAN DI SEKOLAH...!!??
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUxd9jz9b-60mK0aHdGcpeJutUX3driKF3KRwM2c6e7I_6R5hz5zBnTJydGtFPwjfbYIe7p4TXpCRtgTfoLN3Azaudc6lJ5gGBPXrZXOQSdR_tPNeZDsF_82pmmJeUCAVnnrX3KPqfY5Y/s1600/0607+PHI+MOS.JPGPenggunaan kekerasan meluas kemana-mana, termasuk dunia anak yang sebelumnya dikenal dunia gembira dan bermain. Anak-anak ini tentu belajar dari lingkungannya. Kekerasan di sekolah dilihat dengan jelas pada setiap penerimaan siswa baru di SMP dan SMA. Kegiatan Masa Orientasi Sekolah ( MOS ) menjadi ajang kekerasan terhadap siswa baru oleh siswa senior.
MOS menjadi tindakan penindasan dan perpeloncoan terhadap siswa baru. Siswa senior menindas dengan sengaja terhadap siswa baru yang tujuannya menyakiti korban, baik secara fisik atau psikis, atau keduanya. Penindasan biasanya bertindak sendirian atau kelompok dan memilih siswa baru yang dianggap rentan jadi korban. Korban menarik perhatian penindas karena usia muda, postur kecil, atau status sosial rendah.

http://www.manadopost.co.id/uploads/berita/dir16072010/img16072010701371.jpg
Sumber Gambar : manadopost.co.id
Ada dua tujuan yang hendak dicapai penindas. Pertama, ingin menunjukkan bahwa mereka lebih kuat dan menandaskan status sebagai “jagoan”. Kedua, menginginkan sesuatu, bisa berupa uang, bekal makan siang, jawaban PR atau perhatian. Karena itu ketika MOS, banyak orang tua mengeluh anaknya disuruh seniornya membeli ini dan itu, yang harganya mahal atau susah di dapat.
Sebaliknya perpeloncoan melibatkan banyak orang, sebagian pemelonco, sebagian menyaksikan, dan sebagian lagi diplonco. Yang diplonco adalah kelompok tertentu, misalnya anggota baru dalam organisasi sekolah atau kegiatan lain dengan dalih latihan kepemimpinan siswa. Pemelonco (senioar) bertindak atas nama suatu kelompok dan biasanya melanjutkan tradisi nenek moyang meraka(senior mereka) dan melestarikan hierarki.

Dari tahun ketahun, MOS di SMP dan SMA menjadi arena penindasan siswa baru. Pelaksanaan MOS telah dikeluhkan orang tua dan siswa baru. Tujuan MOS memperkenalkan lingkungan belajar dan lingkunga sosial baru mengalami prubahan orientasi yang lama kelamaan menjadi regenerasi kekerasan atau bulying.
Saat ini kekerasan oleh siswa SMP dan SMA secara kuantitatif dan kualitas tidak berbeda dengan senior mereka di Perguruan Tinggi. Tawuran  siswa SMP dan SMA merupakan penggunaan kekerasan siswa untuk menyelesaikan masalah. Peningkatan kekerasan oleh siswa SMP dan SMA dalam bentuk tawuran linear dengan kekerasan yang terjadi, di sekolah sewaktu kegiatan MOS.
Sekalipun tidak ada data mengenai kekerasan sewaktu MOS, berbagai keluhan dan laporan orang tua yang dimuat dan diberitakan media masa cukup memberi gambaran bahwa kekerasan terhadap siswa baru sewaktu MOS terus meningkat.

Hentikan kekerasan terhadap anak
Kekerasan yang dilakukan oleh anak   terhadap anak lain adalah praktek kekerasan yang selalu berulang. Praktek kekerasan anak-anak itu tidak muncul sendiri melainkan melalui proses yang lama. Dalam perspektif  hak dan perlindingan anak, anak tidak hanya bergantung pada lingkungannya, tetapi juga belajar mengenai apa saja yang dilihat dan dialaminya.
Ketika seorang anak melakukan kekerasan terhadap anak lain, maka sebagai pelaku kekerasan, anak harus di pandang dan ditempatkan sebagai korban,baik korban dari keluarga ataupun sistem sosial. Anak-anak yang melakukan kekerasan biasanya mendapat kekerasan dari rumah yang dilakukan oleh keluarganya. Anak yang tidak mendapat perhatian dari keluarganya juga cenderung menjadi pelaku kekerasan.

Studi di Univ. Atmajaya Jakarta (2006) menyebutkan kekerasan terhadap anak terjadi diberbagai tempat. Pelaku kekerasan umumnya adalah orang-orang yang dekat dengan korban. Rumah dan sekolah merupakan dua tempat yang tidak kondusif  bagi perkembangan anak karena di kedua tempat ini kekerasan dipraktikkan dan disosialisasikan.
Kenyataannya, orang–orang jahat dan tidak tahu malu di negeri ini adalah orang-orang yang tamatan sekolah. Pelaku kekerasan dan orang-orang yang tidak tahu malu seperti koruptor adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi. Sejakk dini mereka telah hidup dalam kekerasan dan kemunafikan.
Di rumah dan di sekolah mereka adalah korban kekerasan dari keluarga, senior, dan guru. Mereka dididik untuk menjadi hipokrit. Pelajaran-pelajaran yang setiap hari mereka terima adalah pelajaran tentang kebaikan, tetapi dalam praktik yang mereka lihat adalah kemunafikan.

Kekerasan yang diproduksi dan disosialisasikan akan terus berkembang, berpindah, dan berputar membentuk apa yang oleh Dom Helder Camare disebut sebagai “spiral kekerasan”. Ketika telah menjadi spiral, maka kekerasan sangat sulit diputus karena begitu banyak orang terlibat memproduksi dan mensosialisasikannya.
Cara efektif dalam memutus atau memotong kekerasan yang telah menjadi spiral adalah memulai dari dunia anak. Kekerasan terhadap anak harus dihentikan sehingga anak-anak  yang tumbuh menjadi anak-anak yang anti kekerasan. Anak-anak yang tumbuh pada lingkungan tanpa kekerasan akan mensosialisasikan anti kekerasan. Dengan begitu rantai kekerasan dapat dipotong.
(Sumber : Harian Kendari Pos)

Asal Mula MOS (Masa Orientasi Siswa). ?
Sebenarnya, jika ditelusuri. Sejarah MOS, Ospek ini jika ditelusuri sebenarnya sudah sejak Jaman Kolonial, tepatnya di STOVIA atau Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (1898-1927). Pada masa itu, mereka yang baru masuk harus menjadi “anak buah” si kakak kelas itu seperti membersihkan ruangan senior. Dan hal itu berlanjut pada masa Geneeskundinge Hooge School (GHS) atau Sekolah Tinggi Kedokteran (1927-1942) (STOVIA dan GHS sekarang menjadi FKUI Salemba), pada masa GHS ini kegiatan itu menjadi lebih formal meskipun masih bersifat sukarela. Istilah yang digunakan pada saat itu adalah ontgroening atau “membuat tidak hijau lagi”, jadi proses ini dimaksudkan untuk mendewasakan si anak baru itu.
Ketika sudah merdeka pun, proses ini masih dilanjutkan bahkan sampai sekarang. Setelah era 50-an, kegiatan ini dibuat lebih “wajib”. Bahkan malah terkesan semakin tidak mendidik dan hanya menjadi ajang kepuasan si kakak kelas. Yang biasanya menjadi bagian “pemlonco” seringkali orang2 yang kurang kerjaan, jadi semakin membuat kesan tidak mendidik. Bentuk “perkenalannya” pun lebih ke bentuk yang kurang mendidik dan hanya untuk lucu-lucuan seperti si anak baru harus menggunakan aksesoris yang terlihat “lucu”, menggunduli rambut, memakai dandanan yang aneh2, dsb. Dan kegiatannya pun biasanya seenak jidat si senior, seperti membawa barang2 aneh, dll. Dan penuh kegiatan fisik pastinya.


MOS Sekolah MenengahDan anehnya, walaupun banyak ditentang semenjak era 60-an. Kegiatan seperti ini seakan tidak ada matinya, malah dalam perkembangannya kegiatan seperti ini malah ditiru oleh SMP dan SMA. Dengan dalih “adaptasi dan peralihan masa”, kegiatan inipun dicontoh oleh satuan pendidikan dibawahnya. Walau tidak sesadis di Universitas, tetap saja terkesan tidak mendidik dan kurang bermanfaat, khususnya pada MOS di sekolah negeri.
(sumber : Kompasiana.com)

Baca Selengkapnya ....

Pendidikan Berkarakter

Posted by e-absen rapat Rabu, 01 Agustus 2012 0 komentar

UAM MAN I Kendari 2012
Pendidikan tak bisa dipisahkan dengan rakyat. Pendapat inilah yang dianut oleh para pendiri bangsa dan tokoh pendidikan di awal kemerdekaan. Bagi mereka, pendidikan adalah aset sebuah bangsa dan dipergunakan untuk mencapai cita-cita kolektifnya.
Kita bisa menengok pemikiran Bung Hatta. Menurut Bung Hatta, pendidikan harus melayani kebutuhan rakyat. Karenanya, pelajaran atau kurikulum pun harus disesuaikan dengan kepentingan rakyat dalam perkembangannya. Artinya, jika sekarang rakyat sedang membangun, maka lembaga pendidikan mesti mencetak ‘tenaga pembangunan’.
Nah, supaya tanggung-jawab itu bisa terlaksana, maka pendidikan nasional harus mengutamakan pendidikan karakter. Bagi Bung Hatta, tujuan universitas tidaklah semata-mata mendidik orang untuk ilmu pengetahuan, tetapai juga untuk mendidik karakternya. “Ilmu dapat dipelajari oleh segala orang yang cerdas dan tajam otaknya, tetapi manusia yang berkarakter tidak bisa diperoleh begitu saja,” kata Bung Hatta.
Manusia berkarakter itu meliputi: kecintaan pada kebenaran, berpihak kepada rakyat, siap berjuang demi negara di segala lapangan kehidupan, berfikiran kritis-konstruktif, mengabdi kepada kemanusiaan, dan lain-lain.
Inilah dilema dalam pendidikan kita sekarang. Sistem pendidikan nasional, yang makin tunduk pada ideologi pasar, makin menjauh dari kepentingan rakyat dan negara. Pendidikan nasional tak lagi menghasilkan manusia berkarakter. Alhasil, kita punya banyak ahli atau pemikir di segala bidang, tetapi sangat sedikit yang berdedikasi kepada negara dan rakyat.
Lihat saja ekonom-ekonom kita. Banyak diantara mereka yang menimbah ilmu ekonomi di luar negeri. Namun, ketika mereka menjadi pejabat negara, kebijakan mereka justru menghancurkan ekonomi nasional dan memiskinkan rakyat. Mereka punya gelar tinggi dan faham teori-teori ekonomi. Namun, corak berfikir mereka belum lepas dari “economische minderwaardigheid”, yaitu penyakit orang yang selalu merasa rendah diri dalam perekonomian.
Ada beberapa persoalan di sini. Pertama, proses penyelenggaran pendidikan kita sudah bergeser dari semangat pembukaan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, menjadi semangat melayani kepentingan akumulasi keuntungan.
Kedua, kurikulum pendidikan tidak lagi disandarkan pada kebutuhan rakyat. Yang terjadi, kurikulum disusun sesuai dengan kepentingan pasar tenaga kerja dan kebutuhan industri kapitalis. Akhirnya, banyak pengetahuan yang dikembangkan di universitas tidak bisa menjawab problem konkret rakyat.
Ketiga,  proses penyelenggaraan pendidikan nyaris tanpa partisipasi dan keterlibatan massa rakyat. Tembok-tembok universitas dibangun tinggi-tinggi untuk memisahkan kehidupan kampus dan rakyat di sekitarnya. Akibatnya, lembaga-lembaga pendidikan seperti terisolasi dari massa rakyat. Sebagian besar lembaga pendidikan di Indonesia itu bak menara gading di tengah-tengah massa rakyat.
Keempat, banyak pejabat universitas di Indonesia bermental inlander. Ini terlihat, misalnya, pada semangat “asingisasi” perguruan tinggi. Mereka bangga jika kampusnya mendapat kategori “world class university”. Ironisnya, internasionalisasi pendidikan hanya dimaknai sekadar penggunaan bahasa asing (Inggris) dalam pengantar kuliah. Sedangkan corak dan kedalaman ilmunya masih tetap terbelakang.
Kelima, pendidikan nasional sekarang sangat diskriminatif, segmentatif, dan banyak pengecualian. Orang-orang yang bisa mengenyam pendidikan hanyalah orang yang sanggup membeli atau membayar mahal. Ini akibat bekerjanya ideologi pasar dalam dunia pendidikan nasional.
Keenam, pendidikan nasional saat ini sangat alergi dengan fikiran-fikiran kritis dan emansipatoris. Akhir-akhir ini kita sering menyaksikan keputusan pejabat universitas mend-DO mahasiswa-mahasiswa kritis. Juga, tak sedikit universitas yang alergi dengan pergerakan mahasiswa.
Kekayaan terbesar suatu bangsa terletak pada pengetahuan rakyatnya. Karena itu, sesuai dengan pembukaan UUD 1945, pendidikan nasional harus bisa mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan di sini tak bisa dimaknai sekedar punya “ilmu pengetahuan”, tetapi juga harus punya keberpihakan dan keterlibatan dalam pembangunan bangsa. Karena itu, mutlak kurikulum itu harus menekankan agar siswa bisa berfikir kritis, faham akan realitas sosial di sekitarnya, dan punya tanggung jawab moral bagi perjuangan rakyat dan bangsanya. Juga, tak kalah pentingnya, harus sesuai dengan kepribadian bangsa kita.
Sumber :http://www.berdikarionline.com

Baca Selengkapnya ....

Guru Berprestasi

Posted by e-absen rapat Minggu, 29 Juli 2012 0 komentar
http://www.riauterkini.com/gambar/apl.jpg
sumber :  riauterkini.com
Bagaimana Menjadi Guru Berprestasi
Seleksi guru teladan (guru berprestasi istilah saat ini) sebenarnya merupakan ajang melihat dan refleksi diri bagi para guru.  Kadang seorang guru telah merasa dirinya sudah paling bagus, paling super, paling berhasil dalam mengajar diantara teman teman di sekolah di mana guru tersebut berada.

Indikator yang mudah ditemukan adalah ketika kumpul sesama guru yang sifatnya non formal, sering terlontar bahwam dirinyalah yang paling bagus dalam mengajar, dirinyalah yang paling menguasai dalam materi pembelajaran, dirinyalah yang paling baik dalam mencetuskan ide, dirinyalah yang paling bisa dalam mengatasi masalah siswa nakal, siswa pandai, dan masih banyak lagi yang lain. Memang tidak dipungkiri bahwa setiap orang (termasuk guru) memiliki kecenderungan untuk sombong, mengunggulkan dirinya dibanding dengan teman atau orang lain. Relatif sedikit guru yang menyadari bahwa dirinya mempunyai banyak kekurangan.  Cerita-cerita di depan kelas ketika mengajar juga mengindikasikan kecenderungan untuk sombong di hadapan para siswanya. Namun ketika ada edaran seleksi guru teladan (guru berprestasi), lomba karya tulis, lomba karya ilmiah, sangat sulit mencari guru yang dengan suka rela dan kesadaran diri mengajukan dirinya kepada sekolah untuk mengikutinya. Kondisi ini ternyata terjadi di hampir setiap satuan pendidika baik di tingkat SD, SMP, maupun di tingkat SMA/MA/SMK. Sangat ironis memang. Namun itulah kondisi real di lapangan. Apakah ini sudah sifat dan karakter sebagian besar bangsa Indonesia yang cenderung enggan berkompetisi? Meskipun sebenarnya keikutsertaan pada ajang lomba, sangat dibutuhkan untuk mengetahui potensi diri secara nyata. Lomba merupakan ajang refleksi diri sejauh mana potensi diri kita dibanding dengan para guru yang lain di luar institusinya (tidak seperti jago kandang yang hanya menang di kandangnya sendiri, namun ketika di kandang lawan tidak ada apa-apanya).
Dalam seleksi guru teladan, empat aspek kompetensi guru benar benar diuji, yakni aspek paedagogis, profesional, sosial, dan kepribadian.
Paedagogis
Pada aspek ini, guru dituntut untuk mengetahui teori belajar, teori mengajar, teori perkembangan jiwa anak, juga dituntut untuk memahami kurikulum yang berlaku terutama yang menyangkut arah pembelajaran dan semangat kurikulum yang berlaku saat itu. Pada seleksi guru teladan, aspek ini diukur melalui tes tertulis maupun tes wawancara, disamping juga diukur melalui ada dan tidaknya dokumen pembelajaran yang meliputi
  1. rencana pembelajaran,
  2. laporan pelaksanaan pembelajaran,
  3. data hasil evaluasi pembelajaran
  4. data analisis hasil evaluasi dan
  5. laporan program tindak lanjutnya
Kelima dokumen tersebut perlu lengkap dan lampirkan dalam bentuk portofolio yang disatukan dengan dokumen aspek yang lain (10 aspek/komponen sertifikasi guru).
Profesional
Pada apek ini, guru dituntut untuk menguasai materi pelajaran sesuai yang dikehendaki dan diamanatkan oleh kurikulum, tentu berkaitan dengan bidang ajar yang digelutinya, sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya. Pada seleksi guru teladan, aspek ini diuji melalui dukumen karya pengembangan profesi, misal ada dan tidaknya buku hasil karya yang dipublikasikan, karya ilmiah yang dipublikasikan baik melalui jurnal terakreditasi maupun melalui media lain yang relevan. Kepemilikan piagam penghargaan dan sertifikat keikutsertaan dalam forum ilmiah, juga dapat menjadi indikator penguasaan aspek profesional seorang guru.
Sosial
Aspek ini sangat banyak indikatornya. Sering dan tidaknya guru diberi tugas di sekolah yang tercermin pada banyak dan tidaknya SK penugasan kepala sekolah pada guru tersebut, bagaimana peran guru di lingkungan tempat tinggalnya (biasanya dibuktikan dengan surat keterangan Kepala Keluranan) apakah menjadi ketua RT, ketua RW, penasehat RT penasehat RW, anggota/pengurus Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), atau Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kota (LPMK), anggota/pengurus Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM), atau jabatan lain di lingkungan tempat tinggalnya.
Kepribadian
Seorang guru teladan tentu tidak lepas dari kepemilikan kemantapan dan kematangan kepridadian. Indikator aspek ini diuji melalui wawancara dan tes tertulis. Bagaimana cara berpenampilan dihadapan penguji, bagaimana cara menjawab dan cara berbicara dihadapan penguji, bagaimana cara menolak atau menyanggah atau berargumentasi ketika dipersalahkan penguji. Disisi lain juga dapat diuji melalui pertanyaan yang sifatnya mengarah pada pandangan pribadi tentang suatu masalah.
Lain-lain
Karya Ilmiah, adalah aspek penting yang harus ada dalam seleksi guru berprestasi. Karya ilmiah ini dapat berupa laporan penelitian, makalah seminar atau simposium , dan artikel jurnal.  Untuk yang satu ini, nampaknya tidak boleh tidak. Seorang guru teladan cenderung wajib mempunyai karya ilmial, entah berupa hasil penelitian atau tulisan yang lain, yang dihasilkan melalui prosedur ilmiah. Satu lagi yang tidak kalah pentingnya untuk dikuasai dalam seleksi guru berprestasi adalah hafal, mengerti, dan memahami peraturan dan perundangan dan kebijakan tentang pendidikan di Indonesia.


Baca Selengkapnya ....
Ricky Pratama's Blog support EvaFashionStore.Com - Original design by Bamz | Copyright of MAN 1 KENDARI.